Menjaga Hati

November 20th, 2008 by reechafoel

Aku takkan menangisi cinta yang t’lah berlalu
pun takkan kuratapi kesepian hati yang tak bertepi
Sendiri bukanlah sebuah akhir,
sebagaimana mencintamu hanyalah awal

Takkan juga kumenyalahkan rasa jika esok masih ada
Takkan pula kubertanya pada sang Kuasa
tentang makna dibalik perjumpaan dan perpisahan
Tujuan hidupku bukan hanya untuk cinta

By : Kentz

17 November

November 20th, 2008 by reechafoel

9a trasa udah 1 thn aja..

cm ga hepi ending…bad,bad, n bad…

meski susah,

Lupakan Aku Seperti Aku Melupakanmu

Berusahalah untuk mengerti bahwa kita terlahir tak sempurna

Bahwa apa yang kita harap tak selalu bisa kita dapat

Kuatkanlah…

dan mengertilah bahwa hati terapuh dapat pula menjadi kekuatan baru

Bahwa apa yang terlewati mampu berikan pengalaman berharga untuk esok hari

Lupakan aku… bukan karna ku tak lagi mencintaimu seperti dulu

Proses pendewasaan diri tak selamanya mengenakkan hati, memang susah tuk dimengerti

Ketulusan… t’lah tiba waktunya berbicara tentang pengorbanan

Aku pergi sejak hari ini bukan karna tak lagi mencintai
Aku tersenyum saat bertemu bukan karna bahagia meninggalkanmu
Aku begini…menyakiti hati bukan juga ingin kau musuhi
Hatiku pun menangis…tak hanya jiwamu yang teriris
Lupakan aku seperti aku melupakanmu

Saatnya Pergi

October 26th, 2008 by reechafoel

Bukan maksud hati ini
Untuk pergi
Meninggalkan kasih
mu yang suci

Bukan jua inginku
Meninggalkanmu
Melupakanmu
Lukai hatimu

Sesungguhnya masih
Mencintaimu
Kini pun ku tertatih
Melupakanmu

Relakan saja aku pergi
Bersama hati dan memori
Mungkin harus begini
Kelak kau mengerti

C I N T A ……….

September 15th, 2008 by reechafoel

Tuhan….
Saat aku menyukai seorang teman
Ingatkanlah aku bahwa akan ada sebuah akhir
Sehingga aku tetap bersama Yang Tak Pernah Berakhir

Tuhan…..
Ketika aku merindukan seorang kekasih
Rindukanlah aku kepada yang rindu Cinta Sejati Mu
Agar kerinduanku terhadap - Mu semakin menjadi

Tuhan…….
Jika aku hendak mencintai seseorang
Temukanlah aku dengan orang yang mencinatai - Mu
Agar bertambah kuat cintaku pada - Mu

Tuhan……
Ketika aku sedang jatuh cinta
Jagalah cinta itu
Agar tidak melebihi cintaku pada - Mu

Tuhan….
Ketika aku berucap aku cinta pada - Mu
Biarlah kukatakan kepada yang hatinya tertaut pada - Mu
Agar aku tak jatuh dalam cinta yang bukan karena - Mu

Sebagaimana orang bijak berucap
Mencintai seseorang bukanlah apa - apa
Dicintai seseorang adalah sesuatu
Dicintai oleh orang yang kau cintai sangatlah beratti
Tapi dicintai oleh Sang Pencinta adalah segalanya

Aku Ada Untukmu

May 11th, 2008 by reechafoel

Sejenak ku terpaku pilu

Saat ku tak mampu berbuat apa-apa

Betapa aku cinta tapi kutak mampu dan tak mungkin bersuara

Karna ku hanya bisa menunggu

Saat tak jua ada asa

Ku tak tau harus mengapa

Betapa hati mendadak sepi saat kau tak menyapa

Ku tau mengapa

Ku tau dirimu hampa

Dan ku tau kau menangis dalam dada

Tapi ku tak yakin tangis itu untukku

Andai masih ada ruang

Akankah ruang itu menantiku

Andai masih ada cinta

Adakah cinta itu untukku?

Andai ada pilu

Akankah kau berbagi denganku?

Ku yakin kau tau

Aku ada untukmu

- 11 Mei 2008 -

Tak Ada Lagi

May 11th, 2008 by reechafoel

Antara titik embun pagi, di sela semilir angin
tak ada lagi kesejukan
tubuhku menggigil kedinginan

Antara helai daun dan bunga mekar
antara semak dan belukar
tak ada lagi kehangatan walau mentari membakar

Malam makin kelam
Dimanakah kesejukan??
Mana ketenangan yang pernah hantarkanku
lelap dan bermimpi??
Mimpi yang membawaku
ke alam khayal
Semua tak ada lagi
- 11 Mei 2008 -

KELABU

April 28th, 2008 by reechafoel

Sejenak rasa itu kelabu

tak merah menyala seperti kala itu

setitik demi setitik berubah

entah jadi apa

Segenap warna tersusun

satu per satu memudar

bukan lagi cerah

seperti masa itu

Kini masa sendu

Detik per detik jadi kelabu

-sudut kelabu,28 april 2008-

HaMPa SePeKan

April 17th, 2008 by reechafoel

Jum’at, 11 April 2008

Seperti biasa, pagi yang cukup menyenangkan…

Siang membakar hati..

Malam??

Tak mengerti

Sabtu, 12 April 2008

Hening…

Sedikit gejolak dlm hati yg menyenyeruak..

Minggu, 13 April 2008

Sangat tak mengerti

Senin, 14 April 2008

Masih tak dimengerti dan tak bisa mengerti

Hening…

Rasa ini hampa…

Selasa, 15 April 2008

Masih berkutat dengan tanya

Rabu, 16 April 2008

Hening… Dingin…

Pasrah…

Kamis, 17 April 2008

Sedikit beriak, namun tetap hampa…

Mengapa??

Masih tak ada jawab…

SeLin9kuH iTu INd4h

March 16th, 2008 by reechafoel

Akhir2 ini kekna selingkuh udah jadi bagian yang sah-sah aja dlm hubungan cinta. Banyak hal yang menunjukkan pernyataan itu benar. Infotainment skrg plg banyak ngebahas ttg perselingkuhan artis. cb lg denger lagu2 yang beredar sekarang. Kebanyakan mengusung tema selingkuh. Diantaranya lagu Merpati Band, Selingkuh Itu Indah dan lagunya T2, Lelaki Cadangan. Ngeliat banyaknya tema perselingkuhan yang di angkat ke muka bumi (Bumi percintaan….hehhehe), gw jg ga mo kalah donk. gw jg ngangkat tema ini buat salah satu cerpen gw. Cb d baca.. ni…INI…udah gw kasih liat tuh harus dibaca…nih…

SELINGKUH ITU INDAH??

Oleh : Reecha

Izinkan aku sekali saja

Rasakan cinta yang lain

Sekali saja kuingin memeluknya

Dan cium bibirnya

….

Lagu She itu mengalun lembut dari radio. Apa selingkuh itu perlu izin? Aku rasa nggak. Aku memutar kembali memori yang selama ini tersimpan dalam benakku. Aku ataupun Dena, sama saja. Berada pada posisi yang salah. Bedanya, Dena berada pada posisi yang sama seperti lirik yang dilantunkan She, dan aku kebalikannya. Tapi orang bilang disitulah seninya. Suatu pemikiran yang membuatku senyum sendiri. Memang disitulah seninya. Petualangan hati yang entah kapan kan berakhir. Ada kenikmatan tersendiri dengan tantangan-tantangan itu.

Aku meraih handphone, kemudian menaruhnya. Ambil lagi, lalu menaruhnya lagi. Ini terjadi berkali-kali. Perasaanku sulit untuk ditahan. Aku ingin sekali mendengar suara Rey walaupun kami nggak bisa ketemu. Tapi mana mungkin aku yang menghubungi dia duluan. Bisa aja saat ini dia lagi jalan sama Fenty, pacarnya. Berkali-kali aku meraih handphone dan berkali-kali pula aku meletakkannya kembali. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak meraihnya lagi.

Pikiranku ruwet. Bingung juga mau ngerjain apa. Suara ketukan membuatku kaget. Tapi memunculkan satu harapan suara ketukan itu berasal dari tangan Rey. Jantungku berdebar. Aku bergegas membuka pintu.

“Elo, Den… Gue pikir siapa.” Aku mereguk kecewaku.

“Emang lo lagi nungguin siapa?”

“Nggak… nggak ada kok. Tumben aja jam segini lo ke kos-an gue.”

“Gue lagi bingung aja.”

Aku diam menunggu Dena meneruskan kalimatnya. Dena juga terlihat diam. Tampaknya ia memang sangat bingung.

“Andri mau jemput gue ke sini. Tadi waktu dia nanya gue dimana, gue bilangnya di kos-an lo.”

“Emang tadi lo lagi dimana?” tanyaku bingung.

“Tadi gue lagi nyari kado buat mamanya Jef. Nggak mungkin donk, gue bilang lagi di mall. Sendiri lagi. Bisa-bisa dia nyusulin gue.” Dena diam sesaat, “Tadinya, rencana gue abis beli kado emang mau ke sini. Gue udah bawa peralatan lengkap buat acara ulang tahun mamanya Jef. Makanya gue suruh Jef jemput ke sini aja. Eh, nggak taunya Andri juga bilang mau jemput ke sini.”

“Kalo bingung, jangan selingkuh.” Itu biasanya yang aku ucapkan tiap kali Dena datang dengan masalah selingkuhnya. Tapi kali ini aku tak mengucapkannya. Mungkin kata itu juga cocok diucapkan untukku. Tepatnya, “Kalo tekanan batin gini, jangan mau jadi selingkuhan.”

Aku bingung juga. Daripada salah ngomong, mending aku diam. Aku berusaha jadi pendengar yang baik, walaupun sebenarnya aku nggak bisa fokus sama cerita Dena. Kalau aku bilang kasih alasan ke Andri, nggak mungkin. Aku tau betul bagaimana Andri. Dia keras banget. Nggak mungkin Dena bisa nolak dia. Andri bilang “A”, ya “A”. Nggak mungkin jadi “B”.

“Gue udah janji sama Jef bakalan datang ke ulang tahun mamanya. Dia juga udah bilang lagi ke mamanya.” Berarti juga nggak mungkin membatalkan janji sama Jef. Duuuuh… kok jadi aku yang bingung ya? Ini anak tiap datang memang selalu bawa masalah.

“Gini aja deh, lo bilang sama Andri, jemputnya jam delapan aja. Trus Jef suruh jemput jam tujuh.” Kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulutku.

“Maksud lo?”

“Maksud gue, ntar kalo Andri jemput, lo kan udah jalan tuh, sama Jef. Jadi, kalo dia nanya, gue kasih alasan aja. Mungkin, gue bisa bilang lo ke Rumah Sakit nengokin tante lo yang tiba-tiba sakit.”

“Gila lo. Kalau Andri nyusulin ke Rumah Sakit gimana? Atau dia nelepon nyokap gue gimana? Nggak ah… Nggak. Gue nggak mau.”

“Lha, terus gimana lagi?”

Aku coba berpikir lagi. Untuk sementara Rey harus menghilang dari pikiranku. Aku mencari alternatif-alternatif yang mungkin.

“Haaaa….” teriakku. Dena kaget dan langsung mendelik ke arahku.

“Gue ada ide.”

“Apa?” semangat Dena muncul lagi.

“Lo bilang sama Andri, lo nginap di kos-an gue. Bilang aja lo kangen cerita-cerita sama gue. Kan lo udah lama nggak nginap di sini lagi.”

“Trus?”

“Yee… Lo gimana sih, masa masih nanya. Pikir donk.” Udah dibukain jalan masih aja nggak nyambung-nyambung. Selingkuh bisa, tapi gak pinter-pinter.

“Lo suruh Andri jemputnya besok aja. Jadi, ntar abis dari rumah Jef, lo pulangnya ke sini.”

Wajah Dena jadi cerah lagi, nggak kusut kayak tadi.

“Tapi…”

Duuuh, apalagi nih? Kayaknya Dena terlalu banyak mikir untuk hal yang nggak perlu dipikirin lagi, malah jadi bego untuk hal yang seharusnya dipikirin.

“Kira-kira Andri bisa terima nggak ya?” Dena seperti bertanya pada dirinya sendiri.

Otak cemerlangku tiba-tiba muncul lagi. “Gini aja, biar gue yang ngomong sama Andri.” Senyum Dena mengembang, “You are so sweet, Girl.”

“Kalo ada maunya aja, gini deh. Pokoknya lo harus traktir gue.”

“Oke, Bos.” Dena mengulurkan handphone-nya padaku.

“Lo dulu yang ngomong. Ntar baru kasih gue.”

Dena memencet nomor telepon Andri.

“Yank, lagi di mana? Oo.. Iya, aku lagi di kos-an Tary. Dia mo ngomong nih sama kamu.” Dena mengulurkan handphone-nya.

“Ndri, kamu jemput Dena besok aja ya…” ujarku to the point. Aku yakin Andri pasti akan bertanya, makanya sengaja aku gantung dulu.

“Emang kenapa, Tar?” Tebakanku benar. Ya nggak mungkinlah Andri ngiyain gitu aja. Aku juga nggak bakal mau kalo gitu.

“Aku kangen nih cerita-cerita sama Dena. Kita kan udah lama nggak cerita-cerita. Pengen nostalgia aja.”

“Jadi Dena mo nginap di situ?”

“Kalau boleh sih,” ujarku sedikit menimbulkan kesan ragu, berharap Andri memikirkannya. Lama terdiam, sepertinya Andri mikir. “Ya udah deh. Aku jemputnya besok aja. Lagian malam ini kita juga nggak ada rencana kemana-mana kok.” Akhirnya Andri memutuskan. Dena melonjak senang.

Rey begini juga nggak ya, kalau mau jalan sama aku?

“Memang selingkuh itu indah,” celetuk Dena tiba-tiba.

***

Dena bersiap-siap ke rumahnya Jef. Ia sibuk berdandan. Sementara aku masih saja tidur-tiduran. Rey kembali menguasai kepalaku. Malam minggu begini, aku memang sering sendirian dibanding sama Rey. Karena dia sudah pasti bersama Fenty. Sekali-sekali saja Rey malam mingguan denganku.

Mataku tertuju pada handphone yang tergeletak pasrah. Nggak mungkin, batinku lagi. Aku seolah bertanya dan menjawab sendiri semua pikiran-pikiranku.

Setelah berharap lama, akhirnya Kangen-nya Rasty mengalun juga dari handphone-ku.

“Halo…” jawabku seraya berjalan ke luar kamar. Dena nggak tau masalah ini, jadi nggak mungkin aku bicara di dekatnya. Untung saja Dena nggak komentar apa-apa ketika aku jalan ke luar. Sepertinya dia sibuk dengan dandanannya.

“Kamu dimana, Hone?” Sudah kutebak Rey akan menanyakannya.

“Di kos-an. Kamu dimana, Rey?”

“Sorry ya, Hone. Kita nggak bisa jalan sekarang. Kamu ngerti kan?”

Mungkin akulah cewek bodoh yang paling ngertiin kamu, batinku.

“Iya, aku ngerti.” Dan selalu ini jawaban yang keluar dari mulutku.

Aku sangat mengerti posisiku. Aku nggak mungkin mendesak Rey untuk jalan, nggak bisa menghubungi Rey duluan kecuali dia lagi di kantor. Itupun kalau dia nggak sibuk dengan kerjaannya. Pada hari-hari libur, aku harus menunggu Rey yang menghubungiku.

“Honey…”

“Eh, iya…”

“Kamu nggak apa-apa kan? Sekarang aku mau ke rumah Fenty. Besok kita jalan, oke?”

“Iya.”

“Kok lemes gitu? Senyum donk. Aku bisa ngerasain kamu senyum ato nggak.” Senyum itu selalu mengembang setiap Rey memintanya.

Tak lama telepon ditutup. Begini dan akan selalu begini.

Aku kembali ke kamar. Seperti biasa, aku selalu memikirkan Rey dan Fenty. Sedang apa mereka? Apa Rey senang dengan situasi ini, apa Rey begitu sayang pada Fenty, apa Rey memikirkanku juga, apa hubungan ini akan terus begini? Dan begitu banyak ‘apa-apa’ yang lain.

“Hey, ngelamun aja. Gue pergi dulu ya. Thanks solusinya. Lo di rumah aja?”

“Nyindir gue?”

“Bukan, Tar. Gue nanya doank kok.”

Tanpa aku jawabpun sebenarnya Dena sudah tau jawabannya.

“Jef udah di luar, nih. Dah sayang, gue pergi dulu.” Dena melangkah dengan centilnya seolah menyindirku yang sampai saat ini Dena tau aku tak punya pacar.

My imagine sign back in…

Aku tau posisiku sulit. Tapi aku juga nggak bisa atau lebih tepatnya nggak mau melepaskan Rey. Aku membutuhkannya. Mungkin aku terlalu melankolis. Tapi seperti itulah yang aku rasakan. Aku membutuhkan Rey, bagaimanapun dia.

“Aaaaaaagggggghhhhhhh….” Aku pusing memikirkannya.

Apa selingkuh itu masih indah?

Padang, 10 Januari 2008  11:07

Seperti Waktu Itu

March 10th, 2008 by reechafoel

Jauh…
Ya, jauh…
Kian lama kurasa
Dirimu kian jauh…
Hingga tak ada asa
Tuk menggapai rasa…
Semua beku
Diliputi pilu…
Namun hatiku
Masih seperti waktu itu
Menanti dirimu…
Hingga nanti semua berlalu
Kelabu…
-di sini kumenanti dirimu,10 maret 2008-