Akhir2 ini kekna selingkuh udah jadi bagian yang sah-sah aja dlm hubungan cinta. Banyak hal yang menunjukkan pernyataan itu benar. Infotainment skrg plg banyak ngebahas ttg perselingkuhan artis. cb lg denger lagu2 yang beredar sekarang. Kebanyakan mengusung tema selingkuh. Diantaranya lagu Merpati Band, Selingkuh Itu Indah dan lagunya T2, Lelaki Cadangan. Ngeliat banyaknya tema perselingkuhan yang di angkat ke muka bumi (Bumi percintaan….hehhehe), gw jg ga mo kalah donk. gw jg ngangkat tema ini buat salah satu cerpen gw. Cb d baca.. ni…INI…udah gw kasih liat tuh harus dibaca…nih…
SELINGKUH ITU INDAH??
Oleh : Reecha
Izinkan aku sekali saja
Rasakan cinta yang lain
Sekali saja kuingin memeluknya
Dan cium bibirnya
….
Lagu She itu mengalun lembut dari radio. Apa selingkuh itu perlu izin? Aku rasa nggak. Aku memutar kembali memori yang selama ini tersimpan dalam benakku. Aku ataupun Dena, sama saja. Berada pada posisi yang salah. Bedanya, Dena berada pada posisi yang sama seperti lirik yang dilantunkan She, dan aku kebalikannya. Tapi orang bilang disitulah seninya. Suatu pemikiran yang membuatku senyum sendiri. Memang disitulah seninya. Petualangan hati yang entah kapan kan berakhir. Ada kenikmatan tersendiri dengan tantangan-tantangan itu.
Aku meraih handphone, kemudian menaruhnya. Ambil lagi, lalu menaruhnya lagi. Ini terjadi berkali-kali. Perasaanku sulit untuk ditahan. Aku ingin sekali mendengar suara Rey walaupun kami nggak bisa ketemu. Tapi mana mungkin aku yang menghubungi dia duluan. Bisa aja saat ini dia lagi jalan sama Fenty, pacarnya. Berkali-kali aku meraih handphone dan berkali-kali pula aku meletakkannya kembali. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak meraihnya lagi.
Pikiranku ruwet. Bingung juga mau ngerjain apa. Suara ketukan membuatku kaget. Tapi memunculkan satu harapan suara ketukan itu berasal dari tangan Rey. Jantungku berdebar. Aku bergegas membuka pintu.
“Elo, Den… Gue pikir siapa.” Aku mereguk kecewaku.
“Emang lo lagi nungguin siapa?”
“Nggak… nggak ada kok. Tumben aja jam segini lo ke kos-an gue.”
“Gue lagi bingung aja.”
Aku diam menunggu Dena meneruskan kalimatnya. Dena juga terlihat diam. Tampaknya ia memang sangat bingung.
“Andri mau jemput gue ke sini. Tadi waktu dia nanya gue dimana, gue bilangnya di kos-an lo.”
“Emang tadi lo lagi dimana?” tanyaku bingung.
“Tadi gue lagi nyari kado buat mamanya Jef. Nggak mungkin donk, gue bilang lagi di mall. Sendiri lagi. Bisa-bisa dia nyusulin gue.” Dena diam sesaat, “Tadinya, rencana gue abis beli kado emang mau ke sini. Gue udah bawa peralatan lengkap buat acara ulang tahun mamanya Jef. Makanya gue suruh Jef jemput ke sini aja. Eh, nggak taunya Andri juga bilang mau jemput ke sini.”
“Kalo bingung, jangan selingkuh.” Itu biasanya yang aku ucapkan tiap kali Dena datang dengan masalah selingkuhnya. Tapi kali ini aku tak mengucapkannya. Mungkin kata itu juga cocok diucapkan untukku. Tepatnya, “Kalo tekanan batin gini, jangan mau jadi selingkuhan.”
Aku bingung juga. Daripada salah ngomong, mending aku diam. Aku berusaha jadi pendengar yang baik, walaupun sebenarnya aku nggak bisa fokus sama cerita Dena. Kalau aku bilang kasih alasan ke Andri, nggak mungkin. Aku tau betul bagaimana Andri. Dia keras banget. Nggak mungkin Dena bisa nolak dia. Andri bilang “A”, ya “A”. Nggak mungkin jadi “B”.
“Gue udah janji sama Jef bakalan datang ke ulang tahun mamanya. Dia juga udah bilang lagi ke mamanya.” Berarti juga nggak mungkin membatalkan janji sama Jef. Duuuuh… kok jadi aku yang bingung ya? Ini anak tiap datang memang selalu bawa masalah.
“Gini aja deh, lo bilang sama Andri, jemputnya jam delapan aja. Trus Jef suruh jemput jam tujuh.” Kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulutku.
“Maksud lo?”
“Maksud gue, ntar kalo Andri jemput, lo kan udah jalan tuh, sama Jef. Jadi, kalo dia nanya, gue kasih alasan aja. Mungkin, gue bisa bilang lo ke Rumah Sakit nengokin tante lo yang tiba-tiba sakit.”
“Gila lo. Kalau Andri nyusulin ke Rumah Sakit gimana? Atau dia nelepon nyokap gue gimana? Nggak ah… Nggak. Gue nggak mau.”
“Lha, terus gimana lagi?”
Aku coba berpikir lagi. Untuk sementara Rey harus menghilang dari pikiranku. Aku mencari alternatif-alternatif yang mungkin.
“Haaaa….” teriakku. Dena kaget dan langsung mendelik ke arahku.
“Gue ada ide.”
“Apa?” semangat Dena muncul lagi.
“Lo bilang sama Andri, lo nginap di kos-an gue. Bilang aja lo kangen cerita-cerita sama gue. Kan lo udah lama nggak nginap di sini lagi.”
“Trus?”
“Yee… Lo gimana sih, masa masih nanya. Pikir donk.” Udah dibukain jalan masih aja nggak nyambung-nyambung. Selingkuh bisa, tapi gak pinter-pinter.
“Lo suruh Andri jemputnya besok aja. Jadi, ntar abis dari rumah Jef, lo pulangnya ke sini.”
Wajah Dena jadi cerah lagi, nggak kusut kayak tadi.
“Tapi…”
Duuuh, apalagi nih? Kayaknya Dena terlalu banyak mikir untuk hal yang nggak perlu dipikirin lagi, malah jadi bego untuk hal yang seharusnya dipikirin.
“Kira-kira Andri bisa terima nggak ya?” Dena seperti bertanya pada dirinya sendiri.
Otak cemerlangku tiba-tiba muncul lagi. “Gini aja, biar gue yang ngomong sama Andri.” Senyum Dena mengembang, “You are so sweet, Girl.”
“Kalo ada maunya aja, gini deh. Pokoknya lo harus traktir gue.”
“Oke, Bos.” Dena mengulurkan handphone-nya padaku.
“Lo dulu yang ngomong. Ntar baru kasih gue.”
Dena memencet nomor telepon Andri.
“Yank, lagi di mana? Oo.. Iya, aku lagi di kos-an Tary. Dia mo ngomong nih sama kamu.” Dena mengulurkan handphone-nya.
“Ndri, kamu jemput Dena besok aja ya…” ujarku to the point. Aku yakin Andri pasti akan bertanya, makanya sengaja aku gantung dulu.
“Emang kenapa, Tar?” Tebakanku benar. Ya nggak mungkinlah Andri ngiyain gitu aja. Aku juga nggak bakal mau kalo gitu.
“Aku kangen nih cerita-cerita sama Dena. Kita kan udah lama nggak cerita-cerita. Pengen nostalgia aja.”
“Jadi Dena mo nginap di situ?”
“Kalau boleh sih,” ujarku sedikit menimbulkan kesan ragu, berharap Andri memikirkannya. Lama terdiam, sepertinya Andri mikir. “Ya udah deh. Aku jemputnya besok aja. Lagian malam ini kita juga nggak ada rencana kemana-mana kok.” Akhirnya Andri memutuskan. Dena melonjak senang.
Rey begini juga nggak ya, kalau mau jalan sama aku?
“Memang selingkuh itu indah,” celetuk Dena tiba-tiba.
***
Dena bersiap-siap ke rumahnya Jef. Ia sibuk berdandan. Sementara aku masih saja tidur-tiduran. Rey kembali menguasai kepalaku. Malam minggu begini, aku memang sering sendirian dibanding sama Rey. Karena dia sudah pasti bersama Fenty. Sekali-sekali saja Rey malam mingguan denganku.
Mataku tertuju pada handphone yang tergeletak pasrah. Nggak mungkin, batinku lagi. Aku seolah bertanya dan menjawab sendiri semua pikiran-pikiranku.
Setelah berharap lama, akhirnya Kangen-nya Rasty mengalun juga dari handphone-ku.
“Halo…” jawabku seraya berjalan ke luar kamar. Dena nggak tau masalah ini, jadi nggak mungkin aku bicara di dekatnya. Untung saja Dena nggak komentar apa-apa ketika aku jalan ke luar. Sepertinya dia sibuk dengan dandanannya.
“Kamu dimana, Hone?” Sudah kutebak Rey akan menanyakannya.
“Di kos-an. Kamu dimana, Rey?”
“Sorry ya, Hone. Kita nggak bisa jalan sekarang. Kamu ngerti kan?”
Mungkin akulah cewek bodoh yang paling ngertiin kamu, batinku.
“Iya, aku ngerti.” Dan selalu ini jawaban yang keluar dari mulutku.
Aku sangat mengerti posisiku. Aku nggak mungkin mendesak Rey untuk jalan, nggak bisa menghubungi Rey duluan kecuali dia lagi di kantor. Itupun kalau dia nggak sibuk dengan kerjaannya. Pada hari-hari libur, aku harus menunggu Rey yang menghubungiku.
“Honey…”
“Eh, iya…”
“Kamu nggak apa-apa kan? Sekarang aku mau ke rumah Fenty. Besok kita jalan, oke?”
“Iya.”
“Kok lemes gitu? Senyum donk. Aku bisa ngerasain kamu senyum ato nggak.” Senyum itu selalu mengembang setiap Rey memintanya.
Tak lama telepon ditutup. Begini dan akan selalu begini.
Aku kembali ke kamar. Seperti biasa, aku selalu memikirkan Rey dan Fenty. Sedang apa mereka? Apa Rey senang dengan situasi ini, apa Rey begitu sayang pada Fenty, apa Rey memikirkanku juga, apa hubungan ini akan terus begini? Dan begitu banyak ‘apa-apa’ yang lain.
“Hey, ngelamun aja. Gue pergi dulu ya. Thanks solusinya. Lo di rumah aja?”
“Nyindir gue?”
“Bukan, Tar. Gue nanya doank kok.”
Tanpa aku jawabpun sebenarnya Dena sudah tau jawabannya.
“Jef udah di luar, nih. Dah sayang, gue pergi dulu.” Dena melangkah dengan centilnya seolah menyindirku yang sampai saat ini Dena tau aku tak punya pacar.
My imagine sign back in…
Aku tau posisiku sulit. Tapi aku juga nggak bisa atau lebih tepatnya nggak mau melepaskan Rey. Aku membutuhkannya. Mungkin aku terlalu melankolis. Tapi seperti itulah yang aku rasakan. Aku membutuhkan Rey, bagaimanapun dia.
“Aaaaaaagggggghhhhhhh….” Aku pusing memikirkannya.
Apa selingkuh itu masih indah?
Padang, 10 Januari 2008 11:07